.

Amalan Yang Dikerjakan Pada Malam Lailatul Qadar

HambaAllah.id, 19/03/2025, 06:28 WIB

Ilustrasi

HAMBAALLAH.ID, Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh kebaikan dan pahala dimana pada bulan ini setiap amalan kebaikan diberi pahala berlipatganda. Salah satu amalan itu adalah mandi pada malam lailatul qadar.

Kesunahan mandi malam lailatul qadar mempunyai banyak riwayat sebagaiamana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali (w 795 H) dalam kitabnya, Lathaiful Ma'arif.    

Ibnu Jarir At-Thabari (w 310 H) sebagaimana dikutip Ibnu Rajab mengatakan:


كانوا يستحبون أن يغتسلوا كلّ ليلة من ليالي العشر الأواخر
Baca juga :

Akibat Serangan Udara Israel, Seorang Wanita Hamil dan Putranya Tewas di Gaza

Artinya, "Mereka ulama salaf menyunahkan mandi pada setiap malam 10 terakhir bulan Ramadhan."


وكان النّخعيّ يغتسل في العشر كلّ ليلة، ومنهم من كان يغتسل ويتطيّب في الليالي التي تكون أرجى لليلة القدر، فأمر زر بن حبيش بالاغتسال ليلة سبع وعشرين من رمضان

Artinya, "An-Nakha'i mandi pada setiap malam 10 terakhir bulan Ramadhan. Sebagian ulama salaf ada ulama yang mandi dan memakai wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan merupakan malam lailatul qadar. Zirr bin Hubaisy memerintahkan mandi pada malam 27 Ramadhan."


وروي عن أنس بن مالك أنه إذا كان ليلة أربع وعشرين اغتسل وتطيّب ولبس حلّة إزارا ورداء، فإذا أصبح طواهما فلم يلبسهما إلى مثلها من قابل

Artinya, "Diriwatkan dari Anas bin Malik bahwa, jika malam 24 Ramadhan beliau mandi, memakai wewangian serta mengenakan izar dan rida', dan setelah subuh beliau melipat keduanya dan tidak mengenakannya lagi sampai waktu yang sama pada tahun berikutnya."


وقال حمّاد بن سلمة: كان ثابت البناني، وحميد الطويل يلبسان أحسن ثيابهما ويتطيّبان، ويطيّبون المسجد بالنّضوح والدّخنة في الليلة التي يرجى فيها ليلة القدر. وقال ثابت: كان لتميم الداريّ حلّة اشتراها بألف درهم، كان يلبسها في الليلة التي يرجى فيها ليلة القدر

Artinya, "Hammad bin Salmah berkata: "Tsabit Al-Banani dan Humaid Al-Thawil, keduanya mengenakan pakaian terbaiknya, menggunakan wewangian dan memberi wewangian masjid dengan wewangian dan asam wewangian pada malam-malam yang diharapkan merupakan malam lailatul qadar." Tsabit berkata: "Tamim Ad-Dari memiliki pakaian yang ia beli dengan 1000 dirham dan ia pakai pada malam yang diharapkan merupakan malam lailatul qadar."    

Dari riwayat-riwayat di atas Ibnu Rajab menyimpulkan bahwa pada malam-malam yang diharapkan merupakan malam lailatul qadar disunahkan untuk membersihkan diri dan berhias, yaitu dengan mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian yang bagus.


فتبيّن بهذا أنّه يستحبّ في الليالي التي ترجى فيها ليلة القدر التنظّف والتزيّن، والتطيب بالغسل والطّيب واللباس الحسن، كما يشرع ذلك في الجمع والأعياد

Artinya, "Dengan ini menjadi jelas bahwa disunahkan pada malam-malam yang diharapkan merupakan malam lailatul qadar untuk membersihkan diri dan berhias, yaitu dengan mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian yang bagus. Semua itu sebagaimana disyariatkan mandi dalam perkumpulan dan hari raya." (Ibnu Rajab, Lathaiful Ma'arif, [Beirut, Darul Ibnu Hazm, 2004], halaman 336-337).   

Baca juga :

TIPS Mendapatkan Lailatul Qadar

Seorang muhaddits abad 20 berkebangsaan Maghribi atau Maroko Syekh Abdullah bin Muhammad binAs-Shiddiq Al-Ghumari dalam kitabnya Ghayatul Ihsan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw mandi pada malam-malam 10 terakhir bulan Ramadhan. Demikian itu karena keutamaan lailatul qadar.    

Kemudian sebagai dalilnya beliau menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ashim dari 'Aisyah, beliau berkata:


كان رسول الله إذا كان رمضان قام ونام، فإذا دخل العشر شدّ المئزر، واجتنب النساء، واغتسل بين الأذانين، وجعل العشاء سحورا

Artinya, "Rasulullah saw pada bulan Ramadhan mendirikan malamnya dan tidur. Apabila masuk 10 malam akhir Ramadhan beliau mengikat kuat izarnya, menjauhi istri, mandi di antara dua azan (Magrib dan Isya') dan melakukan shalat isya pada waktu sahur." (Abdullah bin Muhammad bin As-Shiddiq Al-Ghumari, Ghayatul Ihsan fi Fadhli Zakatil Fitri ea Fadhli Ramadhan, [Beirut, 'Alamul Kutub: 1985], halaman 59).   

Menurut riwayat-riwayat di atas, disunahkan mandi pada malam 10 terakhir bulan Ramadhan atau malam lailatul qadar. Dalam arti malam-malam yang diharapkan lailatul qadar berada pada malam-malam tersebut, tidak hanya mandi, berhias dengan menggunakan wewangian dan mengenakan pakaian yang bagus. Demikian itu adalah amalan yang dikerjakan ulama salaf. Wallahu a'lam bisshawab. (sumber:nu)

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×