HAMBAALLAH.ID, Akhir tahun adalah momen yang penuh makna, lebih dari sekadar menutup lembaran kalender. Ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan diri, mengevaluasi perjalanan hidup, dan mempersiapkan langkah-langkah ke depan. Dalam ajaran Islam, periode akhir tahun merupakan waktu yang ideal untuk melakukan muhasabah diri, sebagai bentuk introspeksi terhadap segala yang telah kita lakukan selama ini.
Melalui muhasabah, kita diajak untuk merenungkan segala tindakan, baik itu perbuatan baik maupun kesalahan yang telah kita lakukan, sebagai langkah awal menuju tobat. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 18, Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١
Baca juga :Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji 2025 Turun, Rata-Rata 55 Juta Rupiah
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Menurut Ibnu Katsir dalam *Tafsir Al-Qur'an Al-Adhim*, ayat ini mengingatkan kita untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri sebelum dihisab di akhirat. Frase “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” mengandung perintah untuk menghitung amal perbuatan kita sebagai persiapan untuk kehidupan akhirat.
وقوله : ( ولتنظر نفس ما قدمت لغد ) أي : حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا ، وانظروا ماذا ادخرتم لأنفسكم من الأعمال الصالحة ليوم معادكم وعرضكم على ربكم
Baca juga :Rincian Rencana Perjalanan Haji 2025
Artinya: “Dan firman-Nya: (Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok), artinya: hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikanlah apa yang telah kalian simpan untuk diri kalian berupa amal-amal saleh untuk hari kembali kalian dan saat kalian diperlihatkan di hadapan Tuhan kalian.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-Adhim, [Saudi Arabia: Dar Tayyibah, 2002], Jilid VIII, hal. 77).
Lebih lanjut, muhasabah menjadi sempurna apabila diiringi dengan tobat. Sejatinya, tobat adalah cara untuk membersihkan diri dari dosa dan memperbaharui komitmen kepada Allah SWT. Dalam Surat Ali Imran ayat 135, Allah berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١
Artinya: “Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).”
Imam Thabari dalam *Tafsir Jamiul Bayan* menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan agar orang yang telah berbuat dosa segera bertobat dan memohon ampunan kepada Allah. Kata “الفاحشة” (al-fahisyah) dalam ayat ini menggambarkan perbuatan dosa yang sangat tercela, baik itu dosa besar maupun perbuatan yang sangat bertentangan dengan ajaran agama.
Lebih lanjut, seruan untuk bertobat bermakna bahwa hanya Allah yang berhak mengampuni dosa, tidak hanya dengan memaafkan, tetapi juga menutupi aib pelaku dosa, agar terhindar dari celaan. Imam Thabari menjelaskan:
فاستغفروا لذنوبهم)، يقول: فسألوا ربهم أن يستُر عليهم ذنوبهم بصفحه لهم عن العقوبة عليها، (ومن يغفر الذنوب إلا الله)، يقول: وهل يغفر الذنوب -أي يعفو عن راكبها فيسترها عليه- إلا الله، (ولم يصروا على ما فعلوا)، يقول: ولم يقيموا على ذنوبهم التي أتوها، ومعصيتهم التي ركبوها، (وهم يعلمون)، يقول: لم يقيموا على ذنوبهم عامدين للمقام عليها، وهم يعلمون أنّ الله قد تقدم بالنهي عنها، وأوعد عليها العقوبةَ من ركبها
Artinya: "Maka mereka memohon ampun atas dosa-dosa mereka," artinya: mereka memohon kepada Tuhan mereka agar menutupi dosa-dosa mereka dengan memberikan maaf kepada mereka dari hukuman atas dosa-dosa tersebut.
Pada ayat lain, yakni Surat An-Nur ayat 31, Allah juga mengingatkan umat Islam untuk bertobat dan memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sebagai langkah penting menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Ayat ini mengajak orang-orang yang beriman untuk kembali kepada Allah dengan hati yang tulus.
وَتُوْبُوْا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: "Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Ibnu Aysur dalam *Tahrir wa Tanwir* menyatakan bahwa tobat adalah pengakuan atas kelemahan dan kesalahan yang telah dilakukan, yang tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan dalam hati dengan penyesalan dan niat kuat untuk tidak mengulangi kesalahan. Ia menambahkan bahwa istighfar, dalam pandangan syariat, mencakup pengakuan dosa dan permohonan ampunan kepada Allah, yang hanya sah apabila disertai niat untuk meninggalkan dosa.
وَلَمَّا كَانَ طَلَبُ الصَّفْحِ عَنِ الْمُؤَاخَذَةِ بِالذَّنْبِ لَا يَصْدُرُ إِلَّا عَنْ نَدَامَةٍ، وَنِيَّةِ إِقْلَاعٍ عَنِ الذَّنْبِ، وَعَدَمِ الْعَوْدَةِ إِلَيْهِ، كَانَ الِاسْتِغْفَارُ فِي لِسَانِ الشَّارِعِ بِمَعْنَى التَّوْبَةِ، إِذْ كَيْفَ يَطْلُبُ الْعَفْوَ عَنِ الذَّنْبِ مَنْ هُوَ مُسْتَمِرٌّ عَلَيْهِ، أَوْ عَازِمٌ عَلَى مُعَاوَدَتِهِ، وَلَوْ طَلَبَ ذَلِكَ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ لَكَانَ أَكْثَرَ إِسَاءَةً مِنَ الذَّنْبِ، فَلِذَلِكَ عُدَّ الِاسْتِغْفَارَ هُنَا رُتْبَةً مِنْ مَرَاتِبِ التَّقْوَى
Artinya: “Dan karena permintaan maaf atas kesalahan tidak mungkin muncul kecuali dari rasa penyesalan, niat untuk meninggalkan dosa, serta tekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka istighfar dalam istilah syariat memiliki makna yang sama dengan taubat. Sebab, bagaimana seseorang dapat meminta pengampunan atas dosa, sementara ia terus-menerus melakukan dosa tersebut, atau bahkan bertekad untuk mengulanginya? Jika seseorang meminta ampun dalam kondisi semacam itu, hal tersebut akan lebih buruk daripada dosa itu sendiri. Oleh karena itu, istighfar di sini dianggap sebagai salah satu tingkatan dari ketakwaan”. (Ibnu Asyur, Tahrir wa Tanwir, [Tunisia: Darul Tunusiyah lin Nasyar, 1984 M] Jilid IV, hal. 93).
Rabi'ah al-Adawiyah, seorang tokoh sufi, juga pernah berkata, "Istighfar kami membutuhkan istighfar lagi." Ungkapan ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya sekedar ucapan, tetapi harus diikuti dengan perubahan nyata dalam perilaku. Ketika seseorang mengucapkan "Astaghfirullah" namun terus bergelimang dosa, maka istighfar itu menjadi kurang bermakna. Oleh karena itu, istighfar sejati harus menjadi langkah pertama dalam perubahan perilaku dan komitmen untuk menjauhi maksiat.
Wallahu a‘lam. (sumber: NU)














