.

Menag Persilakan Tokoh Agama Berikan Kritik Terhadap Negara

HambaAllah.id, 11/01/2025, 17:12 WIB

Menag Nasaruddin Umar (dok.kemenag)

HAMBAALLAH.ID, Makassar – Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya menjaga kebebasan dan independensi tokoh agama dalam menjalankan peranannya sebagai pemberi kritik yang konstruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pernyataan ini disampaikan pada acara Temu Tokoh Agama dan Pembinaan ASN Kemenag Provinsi Sulawesi Selatan.

"Untuk melihat agama berperan secara nyata dalam masyarakat, kita harus memastikan agar agama tetap independen. Apa yang dimaksud dengan agama yang independen? Agama yang mampu memberikan kritik yang membangun," kata Menag kepada para pemimpin agama lintas keyakinan, Jumat (10/1/2025), sebagaimana dikutip dari situs resmi Kemenag.

"Jangan ragu, Bapak-Ibu, apapun agamanya, berikanlah fungsi kritis itu kepada negara. Negara juga harus mendengarkan pendapat dan masukan dari tokoh agama. Kita bukan negara Hegelian yang menjadikan negara sebagai yang utama," tambahnya dalam acara yang diadakan di Asrama Haji Makassar.

Baca juga :

Mana Yang Harus di Dahului, Biaya Haji atau Biaya Anak Sekolah

Menag menekankan bahwa hubungan antara agama dan negara seharusnya harmonis, namun tetap harus seimbang. Ia mengungkapkan, jika agama terlalu bergantung pada negara, maka kemampuannya untuk memberikan kritik akan berkurang.

"Jika agama dan para pemimpinnya terlalu bergantung pada dana negara, maka independensinya akan terancam. Bagaimana mungkin agama bisa memberikan kritik yang tajam jika sepenuhnya bergantung pada negara?" ujar Menag.

Menag juga mengingatkan bahwa pemimpin agama seharusnya tidak menjadi bagian dari struktur negara. "Pemimpin agama dan pemerintah harus saling menghargai. Ulama memberikan fatwa, bukan pemerintah. Itu bukan urusan pemerintah. Pemerintah hanya perlu memfasilitasi kebebasan beragama, bukan mendominasi agama," tegasnya.

Baca juga :

Beberapa Anak Meninggal Dunia di Gaza Karena Terlalu Lama Menunggu izin dari Israel.

Menag juga mengingatkan tentang bahaya menjadikan agama sebagai alat untuk kepentingan politik. Ia menilai agama yang dipakai untuk mendukung kepentingan politik tertentu akan kehilangan kewibawaannya di mata masyarakat.

"Ketika agama tidak lagi memberi pencerahan kepada umat, terutama generasi muda, mereka akan mulai menjauhinya. Fenomena ini sudah terlihat di negara-negara Barat, di mana mereka percaya kepada Tuhan, namun enggan beragama. Ini terjadi karena agama terlalu sering digunakan untuk tujuan politik, sehingga kehilangan wibawa dan daya tariknya," jelasnya.

"Saya tidak takut untuk menyampaikan pandangan ini, karena sejalan dengan UUD 1945 dan Pancasila. Saya yakin, apa yang saya sampaikan ini juga sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo, yang sangat menghargai ulama dan tokoh agama," tambah Menag.

Baca juga :

Akhir Tahun Adalah Waktu yang Baik Untuk Muhasabah

Menag berharap agar agama dan negara dapat berjalan berdampingan dalam membangun negara. "Kita tidak ingin agama ataupun negara menjadi lemah. Keduanya harus kuat bersama, itulah Indonesia," tutupnya.
 

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×