Khutbah Jumat: Meraih Rezeki Dengan Usaha Yang Maksimal di Tengah Badai PHK

HambaAllah.id, 09/05/2025, 07:13 WIB

Ilustrasi

HAMBAALLAH.ID, Pentingnya memaksimalkan usaha untuk meraih rezeki. Seperti pepatah yang sering kita dengar, “Usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Jika hasil yang diharapkan belum tercapai, kemungkinan besar usaha yang dilakukan belum maksimal atau caranya belum tepat. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka dengan sendirinya.” (QS. Ar-Ra’d: 11) 

Khutbah I


الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنَ وَعَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah 
Marilah kita senantiasa mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala karunia yang telah dilimpahkan kepada kita, terutama nikmat keimanan dan keislaman. Semoga selawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau.

Baca juga :

Simak Terminal Bus Shalawat Untuk Jemaah Haji lansia dan berkebutuhan khusus

Selanjutnya, khatib berpesan bahwa takwa merupakan bekal terpenting untuk kehidupan abadi di akhirat. Barang siapa mendambakan keselamatan dan kebahagiaan di surga, hendaknya ia berupaya sungguh-sungguh meningkatkan kualitas ketakwaannya secara berkelanjutan. Ketakwaan ini tidak hanya tercermin dalam peningkatan ibadah ritual, namun juga dalam perhatian terhadap sesama.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah 
Salah satu wujud kepedulian sosial yang sangat relevan saat ini adalah perhatian terhadap saudara-saudara kita yang terkena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Coba kita renungkan, apabila sebagian besar dari mereka memiliki keluarga atau tanggungan, seperti orang tua, saudara, atau lainnya, tentu sangat berat ujian yang mereka hadapi ketika sumber pendapatan utama mereka hilang.

Tanggung jawab utama dalam mencari solusi bagi permasalahan ini berada di pundak pemerintah sebagai pembuat kebijakan, di setiap tingkatan, mulai dari pusat hingga daerah, di seluruh negeri. Dalam ajaran Islam, peran pemerintah sangatlah krusial dan mendasar dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Baca juga :

Cegah kendala dari Makkah ke Arafah Jamaah Haji Yang Terpisah Keluarga Segera Lapor Ke Ketua Kloter

Jamaah sekalian yang semoga selalu diberikan kelimpahan rezeki dari Allah ta'ala. Terkait hal yang telah khatib sebutkan tadi, dalam kaidah fiqih terdapat prinsip yang menyatakan:


تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

Artinya, “Orientasi kebijakan pemimpin harus berasaskan pada kemaslahatan rakyatnya.” 

Dalam kitabnya, Al-Asybah wa al-Nadhair (halaman 122), Imam as-Suyuthi menekankan bahwa salah satu kewajiban mendasar seorang pemimpin adalah pembagian tugas yang adil dan merata. Tindakan ini krusial dalam memelihara keharmonisan sosial dan menghindari munculnya rasa iri di tengah masyarakat. Dengan demikian, seorang pemimpin atau pemerintah yang ideal adalah figur yang memiliki kecerdasan dan kreativitas, yang selalu mampu menghadirkan gagasan-gagasan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat, termasuk mengatasi dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tanggung jawab mereka adalah mengupayakan solusi agar kebutuhan pokok para korban, seperti kelangsungan hidup keluarga mereka, tetap terpenuhi.

Baca juga :

Jamaah Haji: Tips Tidak Bingung di Area Masjidil Haram

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah 
Dari sudut pandang teologis, kita mengimani bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki. Akan tetapi, Allah memberikan rezeki melalui ikhtiar dan perantaraan. Di sinilah urgensi peran pemerintah menjadi nyata, sebagai bagian dari upaya dan sarana penyaluran rezeki tersebut. Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya:


إنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاَللَّهُ الْمُعْطِي

Artinya, "Aku hanya seorang pembagi (kebijakan/pekerjaan), sedangkan Allah merupakan Dzat Maha Pemberi (rezeki)." (HR. Al-Bukhari) 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan hal tersebut karena kapasitas beliau sebagai pemimpin yang mengatur pembagian kerja di antara masyarakatnya. Hal ini terlihat jelas dalam peristiwa kemenangan Perang Khaibar. Setelah kemenangan itu, Nabi memutuskan agar lahan subur Khaibar tetap dikelola oleh penduduk setempat, meskipun beragama Yahudi, dengan hasil panennya dibagi bersama umat Islam. Kisah ini memberikan pelajaran bahwa seorang pemimpin tidak diperkenankan untuk mendiskriminasi masyarakatnya atas dasar apapun, termasuk perbedaan keyakinan. Seluruh rakyat tetap menjadi tanggung jawabnya untuk diperhatikan dan dijamin kesejahteraannya.

Oleh sebab itu, pemerintah dapat menggagas program seperti pelatihan peningkatan keahlian khusus bagi para korban PHK atau pelatihan kewirausahaan dengan modal yang berasal dari bantuan sosial. Bantuan sosial hendaknya tidak hanya mencakup kebutuhan primer, tetapi juga dapat berupa dana awal untuk memulai usaha, sehingga usaha tersebut dapat tumbuh dan berkelanjutan. Berbagai inisiatif lain yang mendorong produktivitas mereka juga perlu diusahakan. 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah 
Selain pemerintah, pihak lain yang dapat berkontribusi membantu para korban PHK adalah masyarakat, terutama mereka yang memiliki kemampuan finansial lebih. Kontribusi ini dapat berupa penyediaan lapangan kerja atau pemberian modal untuk pelatihan keterampilan. Bantuan jenis ini tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memberdayakan korban PHK agar tetap produktif sesuai dengan kompetensi mereka dalam jangka panjang. Dengan demikian, mereka tidak lagi bergantung pada uluran tangan orang lain, karena memiliki keterampilan yang dapat menghasilkan rezeki. 

Hal ini sejalan dengan firman Allah ta'ala:


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka dengan sendirinya.” (QS. Ar-Ra’d: 11) 

Dengan kata lain, perubahan nasib bagi para korban PHK akan terwujud jika mereka tidak terperangkap dalam kesedihan berkepanjangan akibat musibah yang dialami. Mereka perlu segera bangkit dan berpikir kreatif untuk melanjutkan kehidupan, terutama jika memiliki tanggung jawab menafkahi orang lain.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, rezeki adalah ketentuan mutlak dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Peran kita sebagai manusia adalah berikhtiar, sementara hasilnya sepenuhnya menjadi kehendak-Nya. Oleh karena itu, para korban PHK tidak sepatutnya hanya berpasrah diri di rumah. Mereka harus aktif mencari informasi dan peluang agar rezeki kembali hadir dalam kehidupan keluarga mereka. 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah 
Di zaman modern ini, media sosial menjadi alat yang cepat dan efisien untuk menemukan kegiatan yang dapat memulihkan kondisi ekonomi. Tentu saja, penggunaan media sosial ini harus tetap sesuai dengan norma agama, sosial, dan hukum yang berlaku.

Selain mengharapkan bantuan dari pemerintah atau masyarakat, para korban PHK dapat mengambil inisiatif sendiri dengan memanfaatkan media sosial untuk mencari pekerjaan baru, baik yang sesuai dengan pengalaman sebelumnya maupun pekerjaan yang lebih sederhana. Jika kita amati, banyak pengguna media sosial yang berbagi informasi lowongan kerja, dari pekerjaan yang kompleks hingga yang dapat dikerjakan dari rumah.

Selain itu, para hadirin sekalian, para korban PHK dapat memberdayakan keahlian yang sudah mereka miliki. Mereka dapat mempromosikan keahlian tersebut, baik secara online melalui berbagai platform maupun offline dengan berinteraksi langsung di lingkungan sekitar. Dengan cara ini, mereka tidak lagi bergantung pada pihak lain untuk memperoleh rezeki, melainkan mengandalkan kemampuan dan keterampilan diri mereka sendiri.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah 
Inti dari apa yang telah disampaikan adalah pentingnya memaksimalkan usaha untuk meraih rezeki. Seperti pepatah yang sering kita dengar, “Usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Jika hasil yang diharapkan belum tercapai, kemungkinan besar usaha yang dilakukan belum maksimal atau caranya belum tepat. 

Prinsip ini selaras dengan ajaran Islam. Selain ayat dalam surah Ar-Ra’d yang telah disebutkan, terdapat juga ayat lain yang secara tersirat menegaskan bahwa hasil dari sebuah usaha diserahkan kepada Allah. Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 159 berbunyi:


فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya, “Apabila kamu (Muhammad) telah membulatkan tekad bertawakkal kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159). 

Ayat ini pada dasarnya menggambarkan usaha Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan risalah Islam. Allah memberikan petunjuk agar beliau bertawakkal, memasrahkan hasil kepada-Nya. Tawakkal di sini berarti mempercayakan hasil kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memberikan balasan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. 

Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitab Marah Labid (jilid 1, halaman 163), menerangkan bahwa tawakal tidak berarti meniadakan ikhtiar secara fisik, namun hati juga tidak boleh terlalu terpaut pada usaha tersebut. Sebaliknya, sandaran yang hakiki harus tetap tertuju pada pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Prinsip ini juga relevan dalam konteks mencari rezeki. Ketika seseorang mengalami PHK, ia wajib berikhtiar mencari solusi dengan memanfaatkan segala cara yang ada, seperti media sosial atau kesempatan lainnya, untuk memperoleh pekerjaan baru. Setelah berusaha sekuat tenaga, serahkan hasilnya kepada Allah, Sang Pengatur segala urusan di alam semesta ini. 

Semoga Allah senantiasa membukakan jalan keluar bagi kita atas segala permasalahan hidup yang kita hadapi. Amin ya rabbal 'alamin.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ


فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ


إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓٮِٕكَتَهٗ يُصَلُّوۡنَ عَلَى النَّبِىِّ ؕ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوۡا تَسۡلِيۡمًا


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ،  اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ 


اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ustadz M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat (sumber:NU)

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×