HAMBAALLAH.ID, “Seseorang itu bergantung pada agama (perilaku dan kebiasaan) sahabatnya, maka hendaklah setiap dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya)
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى. أَمَّا بَعْدُ : فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Baca juga :Menag: Peran Generasi Z Dalam Kemajuan Islam di Era Digital
Interaksi sosial yang terjaga memiliki peran krusial dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab, dengan selektif dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan yang positif, diharapkan dapat memberikan dampak baik, terutama dalam upaya meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW:
اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رَوَاهُ أَحْمَد فِي مُسْنَدِهِ)
Artinya, “Seseorang itu bergantung pada agama (perilaku dan kebiasaan) sahabatnya, maka hendaklah setiap dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya)
Berdasarkan penjelasan tersebut, jelaslah betapa krusialnya peran lingkungan pergaulan. Pasalnya, kualitas teman dan sahabat memiliki dampak signifikan terhadap naik turunnya tingkat keimanan seseorang.
Baca juga :Menunda Lebih Baik? Panduan Bijak Berhaji Tanpa Utang
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ,
Terdapat lima kelompok individu yang sebaiknya dihindari dalam pergaulan seorang Muslim. Hal ini diuraikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, pada halaman 65.
Pertama, individu yang lemah akal (bodoh). Tidak ada manfaat yang hakiki dalam menjalin pertemanan dengan orang yang kurang pemahamannya. Bahkan, terdapat ungkapan bijak yang menyatakan, "Musuh yang cerdas lebih baik daripada teman yang bodoh." Mengapa demikian? Sebab, orang yang kurang akal berpotensi memberikan saran yang keliru, menyesatkan, dan justru membawa kerugian bagi kita, meskipun dilandasi niat yang baik.
Kedua, individu yang buruk perilakunya. Janganlah bergaul dengan orang yang tidak mampu mengendalikan diri, baik saat dilanda amarah maupun ketika dikuasai hawa nafsu. Orang dengan karakter seperti ini cenderung bertindak impulsif, tanpa mempertimbangkan akibatnya, sehingga berisiko menyeret kita ke dalam masalah dan perbuatan tercela.
Baca juga :AWAS! Jangan Tertipu Haji Menggunakan Visa Non Haji
Ketiga, individu yang fasik. Yaitu, mereka yang terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil dan pernah melakukan dosa besar. Mengapa kita perlu menjauhi mereka? Sebab, jika kita terlalu sering menyaksikan perilaku kemaksiatan, lambat laun hati kita dapat menjadi mati rasa. Perbuatan yang awalnya kita anggap salah, bisa terasa biasa saja, bahkan pada akhirnya kita terjerumus untuk ikut melakukannya.
Keempat, individu yang tamak terhadap dunia. Hindarilah pertemanan dengan orang yang terlalu mencintai materi dan kenikmatan duniawi, karena mereka cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang mereka inginkan. Mereka tidak peduli siapa yang menjadi korban, bahkan dapat mengkhianati teman sendiri demi keuntungan pribadi.
Kelima, individu yang gemar berbohong. Janganlah berteman dengan para pendusta, sebab mereka mampu memutarbalikkan fakta dan realitas. Orang seperti ini dapat mendekatkan sesuatu yang sebenarnya jauh dan menjauhkan sesuatu yang dekat. Dengan kata lain, mereka mahir dalam mengadu domba, menciptakan permusuhan di antara orang-orang yang sebenarnya akrab, sementara kedekatan yang mereka tawarkan hanyalah ilusi dan manipulasi.
Oleh karena itu, wahai para jamaah sekalian, dalam memilih sahabat dan lingkungan pergaulan, kita harus benar-benar cermat dan berhati-hati. Sebab, teman bukanlah sekadar orang yang berada di sekitar kita, melainkan juga memiliki potensi besar untuk memengaruhi arah hidup dan nilai-nilai yang kita anut.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Memilih teman adalah perintah dari Allah kepada nabi-Nya dalam firman-Nya:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Artinya, “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (QS Al-Kahf: 28)
Oleh karena itu, mari kita lebih berhati-hati dalam memilih teman. Sebaiknya, kita berteman dengan orang-orang yang saleh dan bertakwa, karena merekalah yang akan menjaga agama kita, mengajak kita dalam kebaikan, serta selalu mendorong untuk bertakwa kepada Allah.
Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Bakri Al-Makki dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, halaman 51:
وَإِنَّمَا كَانَتْ مُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ مِنَ الْأَدْوِيَةِ أَيْضًا لِأَنَّهَا تُوْرِثُ الْإِقْتِدَاءَ بِهِمْ فِي أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمْ وَأَحْوَالِهِمْ
Artinya: “Bersahabat dan duduk bersama orang-orang saleh juga merupakan salah satu obat (penyembuh hati). Sebab, pergaulan dengan mereka akan menumbuhkan sikap meneladani perbuatan, perkataan, dan keadaan mereka.”
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Demikianlah khotbah Jumat ringkas ini yang mengupas urgensi dalam menyeleksi teman. Semoga risalah ini membawa manfaat bagi kita semua, menyadarkan kita akan betapa krusialnya memilih sahabat, agar agama, budi pekerti, dan watak kita menjadi luhur serta terhindar dari pengaruh nilai-nilai buruk.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ
فقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.














